Kenaikan harga energi global bukan cuma soal bensin dan listrik, fashion juga kena imbasnya. Dan honestly, ini bisa jadi momentum buat kita rethink bahan pakaian yang selama ini kita anggap “normal”.


Kenaikan BBM dan Efek Domino ke Industri Fashion

mivadiva – Kalau belakangan lo ngerasa harga pakaian makin naik tapi kualitasnya nggak selalu ikut naik, itu bukan sekadar perasaan doang. Ada satu faktor besar yang lagi main di belakang layar: kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah.

Yang sering orang nggak sadar, dampak dari kenaikan ini tuh nggak berhenti di sektor energi atau transportasi aja, tapi ikut merembet ke industri lain, termasuk fashion. Hal ini terjadi karena salah satu bahan paling umum dalam produksi pakaian modern, yaitu polyester, berasal langsung dari turunan minyak bumi. Jadi ketika harga minyak naik, biaya produksi polyester otomatis ikut terdorong naik, dan efeknya ngalir dari hulu ke hilir—mulai dari pabrik, distribusi, sampai akhirnya ke harga retail yang kita lihat di toko.

Kalau ditarik lebih jauh, kondisi ini sebenarnya membuka satu fakta yang cukup “mind-opening”: industri fashion modern itu sangat bergantung pada energi fosil. Bahkan secara global, sekitar 1% produksi minyak mentah dunia digunakan untuk membuat serat sintetis seperti polyester. Secara angka mungkin kelihatan kecil, tapi dalam skala industri global, itu besar banget dan menunjukkan betapa eratnya hubungan antara fashion dan sektor energi.

Jadi setiap ada krisis energi atau konflik yang mempengaruhi supply minyak, fashion hampir pasti ikut kena imbasnya, walaupun seringkali nggak langsung kelihatan di permukaan.


Ketergantungan pada Polyester: Masalah Lama yang Baru Kerasa Sekarang

Dominasi Serat Sintetis yang Terlalu Besar

Selama ini, banyak dari kita mungkin nganggep polyester cuma salah satu pilihan bahan di antara banyak opsi lain. Padahal kalau lihat datanya, posisinya jauh lebih dominan dari yang kita kira. Sekitar 60% pakaian di dunia saat ini dibuat dari bahan sintetis berbasis plastik, dan kalau dilihat dari total produksi serat global, angka itu bahkan naik jadi lebih dari 64%.

Yang lebih gila lagi, polyester sendiri menyumbang sekitar 57% dari total produksi serat dunia, yang berarti lebih dari setengah industri tekstil global literally bergantung pada satu jenis bahan yang berbasis minyak. Ini bukan lagi sekadar tren atau preferensi industri, tapi sudah jadi sistem besar yang membentuk cara fashion diproduksi dan dikonsumsi saat ini.

Dampak Lingkungan yang Selama Ini “Disembunyikan”

Selain soal dominasi dan ketergantungan, polyester juga punya dampak lingkungan yang selama ini sering diabaikan karena tertutup oleh harga murah dan ketersediaannya yang tinggi. Industri fashion sendiri diperkirakan menghasilkan sekitar 8,3 juta ton polusi plastik setiap tahunnya, dan dari jumlah itu, sekitar 89% berasal dari pakaian berbahan sintetis.

Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 35% mikroplastik di laut berasal dari tekstil, dengan polyester menyumbang sekitar 73% dari total mikroplastik tersebut. Bahkan dalam aktivitas sehari-hari yang kelihatannya harmless, seperti mencuci baju, ternyata satu kali pencucian pakaian polyester bisa melepaskan hingga 700.000 mikroserat plastik ke air. Mikroplastik ini nggak hilang begitu saja—mereka masuk ke ekosistem laut, rantai makanan, dan pada akhirnya bisa kembali ke tubuh manusia.

Produksi Massal dan Kerentanan Sistem Fast Fashion

Di sisi lain, pertumbuhan industri fashion juga menunjukkan tren yang cukup ekstrem. Permintaan tekstil global meningkat lebih dari 650% dalam beberapa dekade terakhir, dan dalam periode yang sama, penggunaan serat sintetis melonjak dari hanya sekitar 3% menjadi 68% dari total serat dunia. Ini menunjukkan bahwa fast fashion bukan cuma soal tren cepat berganti, tapi juga soal skala produksi yang masif dan ketergantungan yang semakin dalam terhadap bahan sintetis.

Masalahnya, ketika bahan utama sistem ini—yaitu polyester—mulai terdampak oleh kenaikan harga minyak, seluruh sistem jadi rentan. Yang dulu dianggap efisien dan stabil, sekarang justru terlihat rapuh ketika dihadapkan pada tekanan global.


Alternatif Bahan: Balik ke yang Lebih Masuk Akal (Secara Nyaman dan Logika)

Dalam konteks ini, beralih ke bahan alternatif bukan lagi sekadar pilihan gaya atau tren, tapi bisa dibilang sebagai langkah yang lebih rasional. Katun, misalnya, adalah bahan yang sudah lama ada dan tetap relevan karena sifatnya yang breathable, nyaman, dan tidak bergantung langsung pada minyak bumi. Dalam iklim tropis seperti Indonesia, katun bahkan bisa dibilang lebih “masuk akal” dibandingkan polyester karena mampu menyerap keringat dan memberikan kenyamanan dalam penggunaan sehari-hari, tanpa harus mengorbankan fleksibilitas gaya.

  • Katun: Klasik yang Tetap Relevan

Katun tetap jadi salah satu bahan paling stabil karena tidak bergantung pada minyak. Selain itu, sifatnya yang breathable membuatnya ideal untuk iklim tropis seperti Indonesia. Dalam konteks fashion modern, katun juga fleksibel dan bisa digunakan untuk berbagai gaya, dari kasual hingga semi-formal.

  • Linen: Natural Look yang Justru Jadi Tren

Linen juga mulai mendapat tempat kembali dalam tren fashion modern, terutama karena tampilannya yang natural dan kesan effortless yang ditawarkan. Meskipun dikenal mudah kusut, justru karakter tersebut sekarang dianggap sebagai bagian dari estetika, bukan kekurangan. Selain itu, linen berasal dari serat tanaman flax, sehingga lebih stabil terhadap fluktuasi harga energi dan cenderung lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan sintetis berbasis minyak.

  • Tencel (Lyocell): Inovasi Ramah Lingkungan

Sementara itu, tencel atau lyocell hadir sebagai alternatif yang lebih modern dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan. Terbuat dari pulp kayu dan diproses dengan sistem yang lebih efisien, bahan ini menawarkan kombinasi antara kenyamanan, tampilan premium, dan dampak lingkungan yang lebih rendah. Dalam banyak kasus, tencel bahkan digunakan sebagai pengganti polyester dalam pakaian dengan desain minimalis dan clean look karena drape-nya yang lebih halus.

  • Rayon/Viscose: Opsi Transisi

Rayon atau viscose juga bisa dilihat sebagai opsi transisi yang lebih terjangkau. Meskipun masih melalui proses kimia, bahan ini berasal dari serat alami sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada minyak bumi seperti polyester. Namun, kualitasnya sangat tergantung pada proses produksi, sehingga konsumen perlu lebih selektif dalam memilih produk yang menggunakan bahan ini.


Brand Lokal Indonesia yang Sudah Lebih Dulu “Sadar”

Menariknya, pergeseran ke bahan-bahan alternatif ini tidak hanya terjadi di level global, tetapi juga mulai terlihat di Indonesia. Sejumlah brand lokal sudah mulai mengadopsi pendekatan yang lebih sadar terhadap bahan dan proses produksi, bahkan sebelum isu kenaikan harga BBM ini jadi pembicaraan luas. Sejauh Mata Memandang, misalnya, secara konsisten menggunakan bahan seperti katun dan linen serta mengusung konsep slow fashion yang menekankan kualitas dan keberlanjutan. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga membawa narasi tentang pentingnya konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Pendekatan yang serupa juga terlihat pada SukkhaCitta, yang menggabungkan penggunaan organic cotton dengan pemberdayaan komunitas lokal. Dalam model ini, fashion tidak hanya dilihat sebagai produk akhir, tetapi sebagai bagian dari sistem yang melibatkan banyak pihak, mulai dari petani hingga pengrajin. Ini menunjukkan bahwa alternatif terhadap polyester tidak hanya soal bahan, tetapi juga soal cara produksi yang lebih adil dan transparan.

Di sisi yang lebih urban, Danjyo Hiyoji menghadirkan pendekatan yang berbeda dengan tetap mempertahankan relevansi terhadap gaya anak muda. Dengan memanfaatkan bahan seperti rayon dan konsep upcycling, brand ini membuktikan bahwa sustainable fashion tidak harus identik dengan gaya yang terlalu “serius” atau terbatas pada estetika tertentu.


Peran Konsumen: Realitanya, Kita Juga Bagian dari Sistem Ini

Kalau mau jujur, kondisi ini nggak bisa sepenuhnya disalahkan ke industri. Konsumen juga punya peran besar dalam membentuk pola produksi yang ada sekarang. Selama permintaan terhadap pakaian murah berbasis polyester tetap tinggi, brand akan terus memproduksinya karena itu yang paling menguntungkan secara bisnis. Dalam konteks ini, kenaikan harga BBM dan polyester bisa dilihat sebagai momen refleksi: apakah kita akan tetap mempertahankan pola konsumsi lama yang mengandalkan harga murah dan tren cepat, atau mulai mempertimbangkan kualitas, kenyamanan, dan dampak jangka panjang dari pilihan yang kita buat.


Krisis yang Bisa Jadi Peluang Turning Point

Kenaikan harga BBM akibat konflik global memang membawa dampak nyata, termasuk ke industri fashion. Namun di balik itu, ada peluang untuk melihat kembali sistem yang selama ini kita anggap normal.

Data menunjukkan bahwa industri fashion sangat bergantung pada polyester dan bahan sintetis berbasis minyak, yang tidak hanya rentan terhadap krisis ekonomi tetapi juga membawa dampak lingkungan yang besar. Dengan adanya alternatif bahan yang lebih stabil dan semakin berkembangnya brand yang mengusung konsep keberlanjutan, ini bisa menjadi titik awal untuk perubahan yang lebih besar.

Pada akhirnya, fashion bukan hanya soal apa yang kita pakai, tapi juga tentang pilihan yang kita buat. Dan mungkin, di tengah situasi global yang tidak pasti ini, justru ada kesempatan untuk mulai bergerak ke arah yang lebih masuk akal—baik secara ekonomi, lingkungan, maupun gaya hidup.


Referensi

  • UNEP & Geneva Environment Network – Data penggunaan serat sintetis global
  • Textile Exchange – Produksi polyester global
  • Nature Journal – Polusi plastik industri fashion
  • UCSB – Limbah plastik dari tekstil sintetis
  • UNRIC – Mikroplastik dari pencucian polyester
  • UNU – Pertumbuhan serat sintetis global

Categorized in:

Uncategorized,