Industri fashion bekas (secondhand apparel) sedang mengalami lonjakan permintaan global, dengan Gen Z menjadi kelompok pembeli paling agresif. Pergeseran ini bukan sekadar tren musiman — ia mencerminkan perubahan nilai konsumen terhadap konsumsi berlebihan (overconsumption) di industri fashion.
Mengapa Secondhand Apparel Meledak di 2026?

Generasi muda kini melihat thrifting bukan lagi sebagai pilihan darurat, melainkan identitas gaya hidup. Tiga faktor utama mendorong pergeseran ini: kesadaran lingkungan terhadap limbah tekstil, keinginan tampil unik tanpa mengikuti fast fashion massal, dan tekanan ekonomi yang membuat barang preloved jadi alternatif rasional secara harga.
Di Indonesia sendiri, fenomena ini terlihat jelas dari menjamurnya platform thrift online dan pasar fisik seperti Pasar Senen yang makin diminati anak muda urban.
Gen Z sebagai Motor Penggerak Pasar

Gen Z tumbuh dengan akses penuh ke informasi soal dampak lingkungan industri fashion, termasuk isu limbah tekstil dan kondisi kerja di pabrik garmen. Hal ini membuat mereka lebih kritis terhadap merek yang mereka dukung.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z juga nyaman membeli dan menjual kembali pakaian via media sosial dan marketplace resale. Pola ini menciptakan siklus ekonomi sirkular yang mempercepat perputaran fashion bekas, sekaligus menjadikan thrifting sebagai bagian dari personal branding di platform seperti TikTok dan Instagram.
Tren gaya sustainable casual yang belakangan populer juga sejalan dengan pergeseran ini — kamu bisa lihat lebih lanjut di 5 gaya sustainable casual 2026 yang wajib dipunya, yang membahas padu padan outfit ramah lingkungan untuk pemakaian sehari-hari.
Dari Mana Sebenarnya Tren Ini Berasal?

Konsep slow fashion dan capsule wardrobe sebenarnya sudah dibahas sejak beberapa tahun terakhir sebagai respons terhadap budaya beli-pakai-buang. Pendekatan ini menekankan kualitas dibanding kuantitas — memiliki lebih sedikit pakaian tapi lebih tahan lama dan fleksibel dipadupadankan.
Untuk yang ingin memulai transisi ke gaya hidup ini, panduan praktis bisa dilihat di slow fashion dan capsule wardrobe 2025, yang menjelaskan cara membangun lemari pakaian minimalis tapi fungsional.
Sementara itu, gelombang nostalgia terhadap estetika Y2K turut mendorong perburuan barang vintage otentik, karena banyak item Y2K asli justru lebih mudah ditemukan di pasar thrift dibanding versi reproduksi baru. Detail strategi berburu barang ini ada di panduan thrift fashion Y2K 2025.
Material Berkelanjutan Jadi Bagian dari Cerita Ini

Pergeseran ke fashion sustainable tidak berhenti di pakaian bekas saja. Konsumen yang sadar lingkungan juga mulai mempertimbangkan bahan kain yang mereka beli — termasuk mencari alternatif untuk material seperti polyester yang sulit terurai dan berkontribusi pada mikroplastik di lingkungan.
Beberapa alternatif material yang lebih ramah lingkungan dan kini makin mudah ditemukan di pasar lokal dibahas di 4 bahan alternatif polyester.
Bagaimana Memulai Gaya Hidup Fashion Sustainable?

Tidak perlu mengganti seluruh lemari pakaian sekaligus. Langkah paling realistis adalah memulai dari kebiasaan kecil: cek dulu pasar thrift sebelum membeli baru, prioritaskan kualitas jahitan dan bahan saat berburu barang preloved, dan kurangi dorongan impulsif membeli tren yang cepat usang.
- Kenali bahan kain yang tahan lama dan mudah dirawat.
- Cari penjual thrift dengan reputasi dan kondisi barang yang jelas.
- Padupadankan barang lama dengan item baru secara strategis, bukan ganti total.
- Jual kembali pakaian yang sudah tidak terpakai alih-alih membuangnya.
Pendekatan estetika yang minim usaha tapi tetap terlihat rapi — sering disebut “less effort, more style” — juga relevan dengan filosofi ini karena menekankan kesederhanaan dibanding belanja berlebihan. Pembahasannya ada di less effort more style: rahasia tampil chic.
FAQ — Fashion Sustainability dan Tren Secondhand Apparel
Apakah membeli pakaian secondhand benar-benar lebih ramah lingkungan?
Secara umum ya, karena memperpanjang siklus pakai pakaian yang sudah ada mengurangi kebutuhan produksi tekstil baru, yang merupakan salah satu sumber emisi dan limbah air terbesar di industri fashion.
Mengapa Gen Z lebih tertarik thrifting dibanding generasi sebelumnya?
Gen Z besar dengan paparan informasi soal dampak lingkungan fast fashion, sekaligus melihat thrifting sebagai cara berekspresi unik dan terjangkau secara ekonomi.
Apakah tren ini hanya berlaku di luar negeri atau juga di Indonesia?
Tren ini juga terlihat jelas di Indonesia, ditandai dengan makin populernya komunitas thrift lokal dan platform jual-beli pakaian preloved di kalangan anak muda.
